Share this:

Sedikit berbagi tentang seorang yang saya kenal sejak masa SMA. Masa yang menjadi titik awal saya dalam membentuk saya yang sekarang ini. Sangat banyak cerita dimulai dari bernyanyi bareng, jalan-jalan bareng, tidur bareng, sampai kerja bareng dalam berbagai kegiatan, yang sampai saat ini masih dilakukan. 😀

Sambil bernostalgia, inilah sedikit tulisan yang ditulis sambil ketawa-ketawa sendiri. Astagfirullah, mungkin dulu kita menganggap apa yang ada disekeliling kita tidak lebih hanyalah orang-orang yang tidak ada peran banyak dalam hidup kita. Tetapi kalau sekarang diingat-ingat apa yang telah kita lakukan, itulah yang membuat kita seperti sekarang ini. Ayo kita mulai!

Era Putih Abu

Lebih kurang tujuh tahun mengenal orang yang satu ini. Di SMA N 1 Curup adalah tempat semuanya dimulai. Di sanalah kita belajar. Meskipun tidak pernah belajar dalam satu kelas tetapi kegiatan extrakulikuler sekolah selalu menjadi wadah kita untuk berinteraksi dan saling mengenal.

Dari kiri: Wahyu, Ridho, Aznan

Risma Asy-Syura

Dalam satu wadah bernama Risma Asy-Syura, ditambah lagi tergabung dalam satu grup nasyid ASV 15, membuat kami serta kawan-kawan lain tahu sifat satu sama lain. Dengan suara pas-pasan kita berenam dalam satu grup nasyid sering mengikuti lomba dalam/luar kota hingga mengisi acara pernikahan. Jika dilihat foton atau videonya sekarang, mungkin hanya bisa tertawa lepas membayangkan bagaimana penampilan saat itu yang masih polos dengan muka-muka lugunya. Haha, sudahlah. Hampir setiap hari pulang petang, duduk-duduk di masjid dan bernyanyi-nyanyi ria di belakang sekolah setelah jam pulang adalah aktivitas yang mewarnai masa putih abu kala itu. Disinilah semuanya dimulai, di Masjid yang saat itu masih berdiri setengah bagian.

Foto ketika masjid barus saja selesai

 

Bocah-bocah masjid yang ceria.

Lomba Cepat Tepat

Bukan hanya itu, bersama orang ini juga pernah mengikuti Lomba Cepat Tepat (LCT) bidang Fisika di Universitas Bengkulu yang tergabung dalam salah satu yang tim mewakili SMA N 1 Curup bersama dengan satu orang lainnya Fitri Heryati Pratiwi. Dengan strategi luar biasa pun kita berhasil mengendalikan perlombaan hingga salah satu dari dua tim SMAN 1 Curup mendapatkan Juara Pertama. Jangan salah, yang menang bukan tim kita bertiga, tetapi tim satunya lagi. Wkwkwk. Tetapi kita merasa Juara pada saat itu karena berhasil menyingkirkan salah satu tim yang sangat kuat dari salah satu SMA Terbaik di Kota. Kita memang harus mengalah saat itu karena harus melawan teman sendiri. Tidak masalah, bukan profil diri yang ingin kami menangkan, tetapi profil sekolah yang mengirim kamilah yang ingin kami angkat. Haseek 😀

Pejabat Sekolah

Ternyata cerita masih berlanjut kawan-kawan. Berhasil menjadi panitia salah satu kegiatan Ramadhan di sekolah membuat kami direkomendasikan untuk menjadi kandidat Ketua Osis dan Wakil. Haha, benar-benar tidak dikira dulunya mungkin yang kami sedikit apatis dengan keterlibatan di kepengurusan OSIS justru diminta untuk menjadi salah dua orang yang akan dipilih menjadi Ketua OSIS dan wakil.

A             : Maju dak kito, Nan?

B             :Hmm.. Boleh! 😀

A             :Kalau ndak maju, kito siapkan nian ko.

B             :Lah iyo, sabaar! ambo ngomong samo bos besar di rumah dulu. Haha

A             :Oke, Yo. Besok kito langsung susun visi misi.

B             :Jadi jugo. Yakin menang dak ko?

A             :InsyaAllah, kito tunjukkan yang terbaik ajo Bro! Idak peduli menang kalah!

B             :Haha, Bismillah!

Daaan. . Jebret! Saat perhitungan suara ternyata kami menempati posisi pertama. Astagfirullah, saya yang dari SMP bahkan belum pernah mencoba menjadi pengurus OSIS tiba-tiba nama saya tertulis sebagai Wakil 1 Ketua OSIS SMAN 1 Curup. Takut? Jelas! Saya termasuk orang yang takut menjadi penghianat Hati. Eh, maksud saya, saya takut menghianati kepercayaan yang sudah diberikan warga SMA N 1 Curup. Jujur saja, yang terbentuk baru Visi Misi dan membuatnya pun hanya beberapa menit. Bahkan rencana program-program pun hanyalah sebatas yang terpikir di kepala saat itu. Tidak ada assesment yang kami lakukan sebelum menyebutkan itu semua. Saking spontannya, sekarang pun saya tidak ingat apa visi misi yang kita susun saat itu. Haha. Tidak apa, prinsip saya adalah “Terus belajar dan memperbaiki diri”. Semoga yang memilih kami saat itu, tidak menyesal. 😀

Foto Pelantikan Pengurus OSIS

Diamanahkan menjadi wakil ketua OSIS membuat saya belajar banyak apa yang dimaksud dengan kebermanfaatan. Mungkin saya sebelumnya hanya suka memonitoring kegiatan OSIS. Setelah terpilih saya harus terlibat langsung, bahkan bebannya tidak main-main (dulu saya menganggap ini semua sangat serius, Haha). Akhirnya semangat pun berapi-api dalam setiap kegiatannya, meskipun kalau diingat-ingat lagi tidak banyak yang saya berikan untuk kegiatan-kegiatan OSIS saat itu. 😀 Tetapi saya punya tim, seluruh Pengurus OSIS SMAN 1 Curup berhasil menunjukkan bahwasanya sendiri kita mungkin bukan apa-apa tetapi dengan bersama-samalah kita mampu memberikan perubahan besar (Beuh, memang perubahan apa yang dihasilkan? Entahlah, mungkin tidak ada. Besak gaya be, wkwkwk). Seluruh pengurus OSIS SMAN 1 Curup edisi 2010/2011 memang sangat ketce saat itu.

Pengurus OSIS SMA N 1 Curup. Periode 2010-2011

Ada satu hal yang saya pelajari saat itu adalah memimpin dengan keteladanan. Inilah yang menjadi motivasi kita saat itu bahwa apa yang ada di kita, akan sangat diperhatikan oleh orang-orang yang kita pimpin. Kehati-hatian dalam bertindak tetapi tetap tegap ketika melangkah maju adalah prinsip yang kita pegang. Dan luar biasa! Prestasi SMAN 1 Curup saat itu memang sedang naik-naiknya, sehingga seakan-akan Pengurus OSIS menjadi kambing hitam atas semua prestasi tersebut. Tolong kawan-kawan jangan salahkan kami atas semua yang tidak kami lakukan. Banyak pelaku hebat yang terlibat untuk semua prestasi yang diraih, mungkin kami hanya salah satu dari yang tidak hebat (yang penting ikut mengambil peran). Hingga kepengurusan OSIS SMAN 1 Curup pun berakhir dengan sangat haru dan Laporan Pertanggungjawaban dibanjiri air mata dari hampir seluruh pengurus hingga pembina OSIS. That’s unforgettable moment!

Oke singkatnya seperti itu!

Awal Dari Perpisahan

Lalu tibalah di penghujung masa putih abu. Kita dihadapkan dengan Ujian Nasional dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kawan saya yang satu ini hebatnya dia adalah salah satu orang yang diundang ke Universitas Indonesia untuk menjadi mahasiswa Farmasi. Berbeda jalan dengan saya dan sedihnya saya tidak menerima undangan dari mana-mana. Jujur saja, awalnya saya merasa tidak terima dengan hasil itu. Saya merasa tidak adil. Tetapi saat melihat nilai raport, Hmmm.. Wajar sih tidak diundang. Wkwkwk. Tapi saya sedikit keras kepala dan dengan sedikit memaksa, melalui ujian tertulis, saya masuk Institut cukup ternama di Bandung. Alhamdulillah.. Sejak inilah saya merasa bahwa saya tidak akan ketinggalan jauh dari kawan saya yang satu ini untuk berkembang.

Era Mahasiswa

Hidup Masing-Masing

Dengan kawan yang satu ini saya tidak pernah putus silaturahmi. Meskipun jarang saling kontak, Facebook adalah salah satu media saya untuk stalking perkembangan teman-teman SMA, salah satunya partner in crime saya yang satu ini. Dan apa yang terjadi? Saya terkejut kaku ketika melihat WAW tidak sedikit teman-teman saya yang dari tingkat pertama kuliah sudah menorehkan prestasi dan aktivitas yang luar biasa. Sementara saya? Masih kebanyakan duduk di meja belajar untuk persiapan kuis yang mungkin akan mengancam eksistensi dan sustainalibitas saya di kampus GANESHA (Maaf kalau sedikit berlebihan, haha). Tetapi saya tidak tinggal diam apalagi setelah melihat teman yang satu ini sudah melalang buana di kampus tetangga. Akhirnya semangat belajar pun terus bertambah setiap buka Facebook.com. Wkwkwk

Di kampus, saya mengikuti sangat banyak kegiatan, dari kegiatan kemahasiswaan pusat hingga keprofesian. Saya sangat suka berinteraksi dengan orang lain, apalagi bisa ketemu dengan teteh-teteh (Astagfirullah..). Bukan maksud apa-apa, di sana saya melihat bahwa perempuan pun dapat beraktivitas jauh lebih bermanfaat dari pada saya. Bukan hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Saya tidak mau kalah Dong! (Huweee) Akhirnya saya pun bertemu dengan beberapa kegiatan di luar kelas, bahkan di luar kampus yang menurut saya pribadi sangat membina softskill dan pola pikir yang saya miliki saat ini. Apa saja kegiatannya? Banyak! (Beuh, banyak = lebih dari satu. Bisa jadi Cuma dua, Haha)

Foto Waktu jumpa di kampus Ganesha

Dipertemukan Kembali di Rumah Kepemimpinan

Akhirnya saya ketemu satu wadah yang luar biasa dan sampai saat ini saya akui sangat mengubah konstruksi berpikir saya. Wadah itu adalah Rumah Kepemimpinan. Di sinilah saya belajar banyak hal terkait hakikat manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini. Wadah inilah yang saya manfaatkan untuk memberikan katalisator terhadap diri saya untuk berkembang. Kita diajarkan bahwa memimpin bukanlah soal posisi, tetapi kontribusi! Kita diajarkan bahwa memimpin itu harus mengubah sesuatu menjadi lebih baik, bukan hanya melakukan hal-hal yang sama saja dengan sebelum-sebelumnya, apalagi lebih buruk dari yang sebelumnya. Motivasinya adalah “Kemaslahatan Umat”. Gila! Saya didoktrin untuk melakukan itu semua di lingkungan yang menurut saya tidak mudah untuk mengambil peran sebagai pengubah. Eh, setelah melihat kawan yang kuliah di UI tadi tebar-tebar foto prestasinya, sedikit menambah semangat saya bahwa saya harus berlari agar tidak tertinggal jauh dengan teman-teman lain yang mungkin sudah jauh berada di depan.

Tetapi, saya salah. Ternyata di Rumah Kepemimpinan saya diajarkan bagaimana cara terbang, bukan hanya berlari. Dua puluh tahun ke depan hingga lima puluh tahun lagi sudah harus ditetapkan dari sekarang ingin mendarat di mana. Suliiit! Itu sangat jauh dari bayang-bayang selama ini yang mungkin perencanaan tidak sampai segitunya. Tetapi di sanalah saya mulai dikenalkan bahwa mimpi tidak perlu memandang umur. Mungkin kita tidak tahu berapa jatah umur kita di muka bumi ini, tetapi setidaknya kita tahu seperti apa kita yang akan datang dan apa yang harus kita lakukan untuk menuju ke target tersebut. Bahkan apabila di perjalanan kita harus terhenti pun, kita harus siapkan apa yang harus kita tinggalkan untuk penerus perjuangan kita agar tetap ada orang yang menuju mimpi kita yang tidak kesampaian oleh kita. Waaah, panjang ceritanya mendeskripsikan wadah ini. Kalau masih penasaran buka saja rumahkemepimpinan.com. (Sedikit promosi, Haha)

Oke kembali ke topik pembicaraan! Apa hubungannya dengan kawan saya yang pernah saya sebutkan di atas?

Jadi ceritanya dia ikut-ikutan bergabung dengan Rumah Kepemimpinan, hanya saja untuk mahasiswa UI lokasinya di Jakarta. Haha. Ya Salaaam. . . Ini orang masih saja ingin mengasa dirinya untuk terus “melesat”, katanya. Dan ini semua artinya apa? Visi kami dipertemukan lagi di sini. Dalam satu naungan Rumah Kepemimpinan, kami dibina untuk menjadi orang yang bermanfaat dan memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitar. Tebarkan kebaikan dan pancarkan energi positif untuk apa yang ada di sekitar kita. Persaudaraan pun menjadi aikon (english: icon) dari pembinaan di wadah ini. Dan Akhirnya dua orang yang sempat terpisah beberapa tahun dipersatukan kembali (Haseek, wkwkk. tolong jangan salah tafsir ya, kami masih menjadi pria jantan seperti dahulu kala :D). Sejak inilah kami mengenal bahwa kami insyaAllah kan menjadi  “SAUDARA SAMPAI SURGA”

Daaan, semuanya pun dimulai kembali.

#IndonesiaBermartabat

Kolaborasi dan Aksi

Ridho bertemu dengan Bayu Sadewa (Teman seperjuangan dari Sekolah Dasar, Mahasiswa UII Yogyakarta) dan mereka sedikit berbagi sesuatu yang menjadi pengganjal sebagai anak rantau dari daerah. Setelah itu giliran bertemu dengan saya yang ternyata kita semua sepakat bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk seluruh umat dan manusia di muka bumi ini (Ceritanya terlalu idealis. Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin membakar semangat untuk memberikan kebermanfaatan). Dan semua itu berakhir, kami bertiga sepakat. Untuk menuju ke arah sana, ayo kita mulai dari lingkungan sendiri yang sampai saat ini hanya stigma negatif yang tersebar di kanca Nasional, bahkan Internasional. Padahal daerah kita, Provinsi Bengkulu, tidak seburuk itu kok. Banyak hal-hal positif yang menjadi karya anak Bumi Raflesia ini.

Maju Bersama Mudo Bengkulu Kito

Tanpa kajian mendalam, pada tanggal 1 Januari 2016 kami bertiga langsung menginisiasi sebuah wadah bernama “MUDO BENGKULU KITO”. Mengatasnamakan pemuda, kami ingin menunjukkan semangat dan mengajak semua pemuda yang merasa memiliki tanggung jawab untuk bengkulu ke depannya untuk turun tangan bahu-membahu mewujudkan provinsi Bengkulu yang bermartabat. Cukup sudah kita dengarkan berita negatif, dari kasus korupsi, kriminalitas, hingga perekonomian daerah yang semakin terbelakang dari sebuah negara yang juga masih berada pada posisi terbelakang (atau bisa dibilang, Provinsi Bengkulu seakan-akan memiliki image sebagai daerah terbelakang kuadrat. Astagfirullah). Tapi yang akhir-akhir ini dapat berita bahwa Bengkulu menjadi provinsi paling bahagia. Wew? What is it mean?

Mungkin ada yang bertanya, apa yang bisa kami lakukan?

Tidak banyak, tetapi dengan Mudo Bengkulu Kito kami mengajak semua elemen pemuda untuk menyuarakan semangat kebermanfaatan membangun daerah. Kami anak rantau yang mungkin selama ini menginjak kampung halaman tidak lebih dari satu bulan dalam setahun. Tetapi keberadaan kami di tanah rantau tidak berarti menutup harapan kami memberikan sedikit kontribusi untuk daerah yang kami tinggal. Kami merantau untuk belajar, dan kami akan pulang dengan membawa semua yang kami dapat di tanah rantau. Merantau untuk belajar, pulang untuk mengabdi kepada daerah. Jarak bukanlah lagi menjadi masalah untuk berkontribusi. Zaman semakin canggih sodara-sodara (ceritanya lagi orasi). Meskipun tidak bisa dipungkiri berada di daerah secara langsung adalah lebih efektif untuk melakukan suatu perubahan di sana. Oke tidak masalah, karena kami percaya bahwa kami tidak sendiri. Banyak kawan-kawan yang sampai saat ini masih di daerah yang memiliki semangat yang sama dengan kami atau bahkan semangatnya jauh lebih besar dari pada kami. Semangat inilah yang menjadi bahan bakar yang membuat Mudo Bengkulu Kito masih tetap hidup di usia mudanya. Wahai para volunteer. Kalian luar biasa! 🙂

Apa harus dengan Mudo Bengkulu Kito?

Kami sampai saat ini masih menjadi lilin yang mungkin api kecil dan nyalanya masih sangat redup. Tentu bukan mengubah lilin yang kecil ini (Mudo Bengkulu Kito) menjadi obor yang besar yang menjadi tujuan kami. Tetapi “BENGKULU BERMARTABAT” adalah cita-cita kami.

Ramadhan Ceria Bersama MBK

Apaan itu Bengkulu Bermartabat?

Sudahlah, jangan pura-pura bego! (Maafkan sedikit Keras… :D) Kita semua di sini tentu menginginkannya. Bahkan beberapa calon pejabat pun menjual kata-kata ini agar mereka dipilih oleh masyarakat. Tapi tenang, kami NON PARTISAN! Tidak ada kepentingan/pergerakan politis yang mewarnai gerakan ini. Ini murni dari keresahan pemuda yang memiliki harapan untuk daerah tetapi kenyataannya sangat jauh dari harapan. Kami tidak akan berhenti berharap. Dan kami harap, kalian pun demikian. Jikalau sampai tua nanti harapan ini belum terwujudkan juga, pastikan pemuda generasi selanjutnya melanjutkan estapet perjuangan ini.

Terimalah salam kami!

Mudo Bengkulu Kito, PEMUDA PEMIMPIN PERUBAHAN!

Intinyaaaa!

Jadi, jangan sia-siakan orang yang ada disekelilingmu. Tarik energi positif dari mereka! Sedikit ataupun banyak semua itu adalah investasi untuk kamu kedepannya. InsyaAllah. . .

Next, mungkin kamu yang akan hadir dalam cerita selanjutnya. Iyaaaa, kamu! 😀 wkwkwk

Mohon maaf kalau tulisannya sedikit campur aduk. Haha.. Hanya sedikit menceritakan perjalanan dua orang yang bersaudara yang bukan berasal dari darah tetapi persaudaraan ideologis (Haseek :D). Tulisan ini di request sama orangnya langsung. Wkwkwk. Untuk bernostalgia kali yaa.

Mohon maaf kalau ada kekurangan atau sesuatu yang berlebihan, atau pihak yang merasa dirugikan. Komentar yang sifatnya membangun akan sangat bermanfaat untuk saya ke depannya. Maklum, masih belajar menulis. Suatu saat nanti, kalau tulisannya sudah bagus, besar harapan dapat menjadi penulis buku yang manfaatnya tidak ditelan zaman.

Semoga bermanfaat! 🙂

Share this:
Divi WordPress Theme